Remaja dan Mental Health Dalam Sekuel 13 Reasons Why, Tepat?

Remaja dan Mental Health Dalam Sekuel 13 Reasons Why, Tepat?

12
0
BAGIKAN

Ladies, sudahkah Anda menonton sekuel terbaru dari film 13 Reasons Why yang baru beberapa minggu kemarin disiarkan? Kalau Anda membaca review dari penggemar 13 Reasons Why yang sudah menonton film tersebut, Vems akan menemukan reaksi yang sangat beragam. Ada yang menyukai sekuel tersebut, some are not buying it. Perdebatan paling panas adalah akurat-tidaknya film tersebut memotret hubungan antara remaja dengan kesehatan mental, depresi dan bunuh diri. Seberapa akurat? Seberapa akuratkah film tersebut dalam memotret realita seputar kesehatan mental remaja? Keep on reading!

Tepat, Karena Film Ini Memotret. . .

  • Kebiasaan Remaja Menyembunyikan Jati Diri Mereka

Dalam episode 9 dari sekuel film tersebut, Mr. Porter menyatakan bahwa para remaja punya kebiasaan untuk menyembunyikan jati diri mereka sendiri hanya agar mereka bisa fit in. Hal tersebut memang benar adanya.

Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke orang dewasa, dan saat itu, para remaja muda tersebut tengah mencari tempat mereka di tengah-tengah kelompok teman-teman maupun keluarga mereka. Akibatnya mereka seringkali memaksakan diri untuk menjadi sosok yang mereka anggap ideal agar bisa berbaur dengan orang-orang di sekitarnya, bahkan jika itu berarti mereka melakukan tindakan yang melanggar moral atau hukum. Mereka yang “fit in” akan terus merasakan tekanan untuk menjadi sosok yang ideal dan disukai, sedangkan mereka yang tidak berhasil “fit in” juga akan mengalami depresi akibat tindakan pengucilan yang dilakukan orang-orang di sekitarnya.

  • Bahwa Tindakan Bunuh Diri Memang Menular

Ada satu hal yang wajib disadari oleh masyarakat, yaitu bunuh diri memang bisa menular. Ingat peristiwa seorang fans boyband berusaha melakukan bunuh diri setelah idolanya diberitakan meninggal dunia akibat bunuh diri? Itulah salah satu bukti bahwa bunuh diri memang dapat memicu chain reaction. Pelaku bunuh diri tersebut umumnya berpikir bahwa jika orang sekaya dan seterkenal artis tersebut saja tidak dapat bertahan melawan depresi, maka apalah ia yang hanya orang biasa. Itulah kenapa awareness terhadap pentingnya kesehatan mental sangat penting untuk digalakkan untuk mencegahnya.

.3824 Remaja dan Mental Health Dalam Sekuel 13 Reasons Why (A)                           

Tidak Tepat, Karena Film Ini. . .

  • Menggambarkan Bunuh Diri Sebagai Tindakan yang Egois

Di salah satu adegan, seorang suicide survivor bernama Alex menyesalkan mengapa ia berhasil bertahan hidup dari percobaan bunuh dirinya. Kedua temannya yaitu Jessica dan Clay sama-sama menganggap bahwa Alex sangat egois karena hanya mempedulikan tentang dirinya sendiri. Adegan tersebut justru membuat poin pembuatan film tersebut menjadi nol.

 

Jika film 13 Reasons Why dan sekuelnya ditujukan untuk mengedukasi masyarakat tentang mental health dan depresi pada remaja, maka menuduh seseorang yang suicidal bahwa dia adalah orang yang egois justru akan memperkuat stigma masyarakat terhadap penderita depresi dan suicidal.

  • Menggambarkan Bahwa Peristiwa Bunuh Diri adalah Salah dari Seseorang

Seringkali peristiwa depresi dan bunuh diri terjadi bukan karena salah siapapun. Sayangnya, sekuel dari film 13 Reasons Why gagal untuk menekankan film tersebut. Sepanjang film, tokoh pengacara sibuk menyalahkan orangtua Hannah terhadap kematiannya, sedangkan para siswa sibuk saling menyalahkan atau justru terpuruk dan menyalahkan diri mereka sendiri.

Bagaimana menurut Anda, Vems? Apakah Anda menganggap bahwa penggambaran kesehatan mental pada film 13 Reasons Why Season 2 ini sudah akurat?

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR