Harga yang Harus Dibayar Sebagai Seorang Jomblo

Harga yang Harus Dibayar Sebagai Seorang Jomblo

16
0
BAGIKAN

“Kapan giliran lu nikah, Mblo?”

“Kapan nih kamu menyusul nikah? Sudah ada calonnya?”.

Para ladies yang single, baik yang memutuskan untuk tetap single atau tidak, pasti sudah kenyang disodori pertanyaan usil itu. Belum lagi menghadapi teman-teman yang entah mengapa sedemikian obsessed dengan dunia pernikahan dan mendorong Anda untuk segera menikah,  terlepas dari jawaban bahwa Anda masih ingin single lebih lama. Annoying? Sure as hell it is! Pernah merasa penasaran dengan penyebab di balik fenomena ini?

Well, kenalan yuk dengan Singlism dan Matrimania. Menurut peneliti senior Bella DePaulo, Singlism adalah tindakan stereotyping, pemberian stigma, serta diskriminasi terhadap orang-orang yang tidak menikah. Setali tiga uang dengan Singlism,  Matrimania adalah pengagungan dan romantisasi berlebihan terhadap konsep berpasangan dan  pernikahan. Ketahui yuk fakta mengenai 2 hegemoni masyarakat ini sekaligus dampaknya bagi para jomblowan dan jomblowati.

  • Diskriminasi Terhadap Para Jomblo

Di kebanyakan perusahaan, hidup Anda akan terasa lebih berat sebagai seorang jomblo. Pasalnya tidak hanya Anda mendapat upah gaji yang lebih kecil dibandingkan rekan kerja yang menikah, Anda juga akan sering disuruh untuk stay di dalam kantor lebih lama untuk meng-cover teman Anda yang sudah berkeluarga. Tak hanya itu, para jomblo juga sering menghadapi bentuk diskriminasi di bidang kehidupan lain, seperti dalam bidang politik, agama, dan dalam kehidupan sosial

.3618 Harga yang Harus Dibayarkan dengan Menjadi Seorang Jomblo (A)

  • Jomblo Dinilai Memiliki “Nilai” yang Lebih Rendah

Perwujudan lain dari Singlism dan Matrimania adalah, Anda para jomblo memiliki “value” yang lebih rendah di mata masyarakat. Ladies yang single (dan memutuskan untuk tetap single) dinilai sebagai pribadi yang belum dewasa dan egois dibandingkan dengan pihak-pihak seusia Anda yang telah menikah. Sering mendengar kan opini tentang sosok perempuan atau pria yang sukses dengan kariernya, tapi satu-satunya yang dibahas adalah, “sudah umur segitu kenapa belum menikah?”. Yup, this is why.

  • Singlism dan Matrimania Sebenarnya adalah Produk Ketidakpercayaan terhadap Diri Sendiri

Ironisnya, budaya diskriminasi (Singlism) dan pengagungan terhadap pernikahan (Matrimania)  sebenarnya  tercipta akibat ketidakpercayaan yang ada di dalam diri sendiri. DePaulo berargumen bahwa jika memang pernikahan memang sedemikian besar dan jelas bagi kebanyakan orang, maka seharusnya itu tidak perlu menjadi sebuah tren. It will shows, bahkan tanpa tindakan diskriminasi terhadap para jomblo sekalipun.

Hype terhadap pernikahan bisa jadi diciptakan untuk meng-counter fakta bahwa walaupun tanpa ikatan pernikahan pun, seorang perempuan single bisa tetap menyalurkan kebutuhan seks ,  memiliki anak, dan menyokong kebutuhan hidupnya sendiri. Pernikahan tak lebih sebagai media melibatkan instansi hukum di dalam kehidupan percintaan Anda,

Tentu saja, tidak ada yang salah dengan memilih untuk menikah. Pernikahan adalah sesuatu yang indah dan sakral HANYA bagi Anda yang benar-benar menginginkannya. Tapi bukan lantas Anda menjadi lebih baik dan lebih bahagia dari orang lain yang memutuskan untuk single. Karena well, kebahagiaan datang dari diri sendiri, bukan dari status hubungan Anda. Setuju, Vems?

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR