Menangani Kepribadian Diri yang Terlalu Empati ke Sesama

Menangani Kepribadian Diri yang Terlalu Empati ke Sesama

14
0
BAGIKAN

Empati merupakan salah satu sifat baik dalam diri manusia. Meski perlu latihan ekstra, berempati sangatlah diperlukan dalam mempertahankan hubungan baik dengan sesama. Sayangnya, Vems, bersikap empati secara berlebihan ternyata hanya akan merugikan diri Anda sendiri. Anda akan merasa membawa beban terlalu banyak di pundak Anda dengan menjadi seseorang yang empatik.

Berempati akan membantu Anda memahami perspektif dan pengalaman hidup orang lain. Sayangnya, terdapat beberapa kekurangan dari kepribadian mudah berempati yang Anda miliki. Ketika Anda berempati dengan perasaan negatif seseorang, Anda juga akan merasakan hal tersebut sama besarnya seolah tengah Anda alami sendiri. Hal tersebut tentu akan menyulitkan Anda ketika harus berhadapan dengan beberapa orang sekaligus yang tengah mengalami emosi fluktuatif.

Ketika Anda tengah berempati, Anda akan diuji seberapa jauh Anda bisa mengendalikan diri sendiri sambil menyaring emosi negatif yang dipancarkan oleh orang lain. Empati yang bertransformasi menjadi simpati akan mengubah Anda menjadi seolah berada dalam situasi yang sama dengan individu yang terkoneksi dengan Anda tersebut. Mengurangi kadar empati bisa menjadi solusi terbaik untuk membatasi keterlibatan emosional Anda.

Terdapat beberapa situasi yang mengharuskan Anda menjadi tidak terlalu empatik seperti biasanya. Misalnya, ketika perasaan negatif seseorang tak hanya menimbulkan rasa empati dari diri Anda, tapi mulai melukai diri Anda dan orang lain. Ketika seseorang mengalami depresi dan memiliki kecenderungan menyakiti diri sendiri, sikap empati dari Anda tidaklah cukup. Carilah bantuan profesional untuk menangani masalah kejiwaannya. Anda juga bisa meminta bantuan rekan yang lain ketika dihadapkan pada situasi darurat, misalnya tindakan percobaan bunuh diri.

Meski tak seburuk depresi dan keinginan bunuh diri, rasa putus asa seringkali menjadi beban emosional seseorang hingga mendorong Anda untuk berempati. Rasa putus asa yang ekstrem akan menutup seseorang dari upaya mencari solusi dan justru membuatnya terfokus pada masalah dirinya yang seakan tak terselesaikan. Berempati pada individu dengan masalah demikian, tanpa adanya peran profesional yang membantu, justru akan menghambat Anda melakukan aktivitas sehari-hari.

Beberapa orang merasa bahwa emosi negatif merupakan satu-satunya hal yang bisa dirasakan. Ketika individu tertentu merasa lebih nyaman dengan perasaan negatifnya daripada memiliki kondisi emosi yang stabil, Anda perlu segera melepaskan diri dari sikap berempati. Penderita depresi yang terlalu nyaman berkubang dengan beban emosionalnya membutuhkan lebih dari sekedar sosok orang lain yang berempati.

Beberapa orang yang dianugerahi kadar empati tinggi akan dengan mudah merasakan lara hati yang diderita sesamanya. Penderitaan emosional yang dirasakan orang lain akan dengan mudah menulari hingga menyedot Anda ke dalam lubang hitam yang sama. Ketika Anda sudah menghadapi situasi buntu karena tak sanggup membantu menyelesaikan masalah emosional orang lain, segera cari bantuan profesional dan tinggalkan. Tidak ada yang bisa Anda lakukan selain merasakan beban emosional yang sama dan menjadikan masalah orang lain sebagai masalah Anda juga. Ladies, kini saatnya Anda berhenti berempati dan menilai seberapa jauh Anda dibutuhkan dan bisa memberikan bantuan. Belajarlah mengontrol emosi dan jangan ragu mencari bantuan profesional yang tepat.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR