Trik Menghadapi Pertanyaan Sulit saat Wawancara Kerja

Trik Menghadapi Pertanyaan Sulit saat Wawancara Kerja

21
0
BAGIKAN

Sesi wawancara merupakan salah satu tahapan dalam tes penrimaan kerja yang paling menegangkan sekaligus paling menentukan nasib Anda sebagai pelamar kerja. Meski telah menjalani berbagai sesi wawancara kerja dengan pertanyaan yang itu-itu saja, Vems, Anda mungkin familiar dengan beberapa pertanyaan dalam wawancara yang terbilang sulit untuk dijawab. Bukan karena membutuhkan kecerdasan tinggi, pertanyaan tersebut terkadang sederhana sekaligus problematik untuk dijawab ala kadarnya.

Pertanyaan klasik saat wawancara seperti tell me about yourself, misalnya. Meski terdengar sepele, pertanyaan tersebut sebenarnya bermaksud mengetahui jati diri Anda, termasuk kekuatan dan potensi kontribusi yang bisa Anda berikan pada perusahaan tanpa terkesan bertele-tele. Terlepas dari jujur atau tidaknya jawaban yang Anda berikan, meki pewawancara pada akhirnya juga akan melakukan kroscek, pewawancara lebih tertarik pada bagaimana cara Anda merespon pertanyaan tersebut.

Ladies bisa memulai dengan melontarkan kutipan bijak dari orang terkenal yang menggambarkan diri Anda secara tepat dan ringkas. Selanjutnya, jawablah dengan sederhana mengenai pencapaian profesional Anda serta kontribusi yang telah Anda berikan pada perusahaan sebelumnya hingga alasan Anda tertarik pada pekerjaan kali ini. Selain itu, pertanyaan wawancara lainnya yang tak kalah rumit ialah ketika Anda diminta untuk menceritakan tentang kegagalan atau suatu hal yang membuat Anda malu di masa lalu.

Pertanyaan tersebut seringkali ditakuti para peserta wawancara, meski jawabannya sepele saja. Pastikan bahwa Anda menegaskan bahwa setiap kegagalan yang Anda alami selalu menjadi batu pijakan bagi perubahan yang lebih baik ke arah kesuksesan di masa yang akan datang. Tak lupa, garis bawahi cara Anda mengkomunikasikan kesalahan dan memperbaiki kemungkinan adanya kesalahpahaman dan masalah terkait dengan rekan kerja.

Pertanyaan mengenai kelemahan terbesar tak jarang menjadi jebakan karena para peserta wawancara justru menjawab dengan menyombongkan kelebihan secara terselubung. Kelemahan “saya merupakan seorang workaholic,” misalnya, dapat diartikan bahwa Anda menyombongkan diri sebagai seorang karyawan teladan yang tak keberat bekerja lembur dan membawa pulang pekerjaan. Alih-alih demikian, Vems, tunjukkan bahwa Anda benar-benar memahami kelemahan diri Anda dan tak kesulitan menyampaikannya secara profesional tanpa maksud terselubung.

Beberapa hal dalam lingkungan kerja saat ini seringkali membuat Anda ingin lekas hengkang dan mengundurkan diri. Sayangnya, lamaran kerja yang tersedia di perusahaan impian biasanya merupakan posisi entry level dan terkesan kurang ideal bagi pengalaman kerja Anda selama bertahun-tahun. Pewawancara mungkin akan bertanya mengapa Anda bersedia melamar untuk posisi entry level ketika pengalaman dan keahlian Anda berkata sebaliknya. Pertanyaan tersebut seringkali merupakan upaya pewawancara untuk mempertanyakan usia dan kelayakan Anda untuk diterima bekerja. Katakan sejujurnya bahwa Anda tertarik untuk menyelami perspektif baru dalam dunia karir dan belajar kembali di bidang yang sama sekali baru.

Apapun pertanyaan yang terlontar saat wawancara, pikirkan matang agar Anda bisa “menjual diri” sebagai calon karyawan terbaik tanpa mengunggulkan diri sendiri secara berlebihan ya Vems.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR