Menyibak Sisi Keunikan dari Kampung Adat Wologai

Menyibak Sisi Keunikan dari Kampung Adat Wologai

9
0
BAGIKAN
Menyibak Sisi Keunikan dari Kampung Adat Wologai-cover

Arus globalisasi saat ini memang sudah tidak terbendung lagi. Arus zaman tersebut juga membawa kemajuan teknologi dan kemajuan ilmu kedokteran yang pastinya sangat bermanfaat untuk semakin mempermudah hidup kita. Tapi tanpa kita sadari, arus modernisasi juga membawa dampak negatif. Salah satunya adalah tergerusnya berbagai macam kebudayaan tradisional yang semakin terkikis dan digantikan dengan kebudayaan yang lebih modern.

Dan terlepas dari diri kita yang semakin bisa menyesuaikan diri dengan kemajuan peradaban, sebagian kecil dari kita pun pasti merindukan atau penasaran warisan peradaban masa lalu. Sehingga itulah yang membuat kebudayaan pedalaman menjadi terlihat semakin eksotis dan tidak biasa. Sedihnya, di Indonesia jumlah kampung adat semakin menyusut digerus oleh semakin tumbuhnya pemukiman modern. Tapi di tanah Indonesia Timur, kearifan kebudayaan tersebut masih bisa Anda lihat di pedalaman kampung adat Wologai.

Kampung adat ini terletak di Kabupaten Ende, Flores Nusa Tenggara Timur. Dikelilingi oleh hijaunya lembah yang masih sangat asri, masyarakat adat Wologai hidup dengan sejahtera di desa yang konon memiliki usia sekitar 800 tahun. Sesampainya ladies di sana, satu hal yang paling pertama Anda saksikan adalah sebuah pohon beringin yang sangat besar. Pohon yang tumbuh di sebelah kanan bagian depan dari gerbang masuk ke desa ini dipercaya oleh penduduk sekitar sebagai warisan dari nenek moyang mereka. Dan secara otomatis usia pohon tersebut juga mencapai ratusan tahun.

Menyibak Sisi Keunikan dari Kampung Adat Wologai-a

Satu hal lain yang paling berkesan dari kampung adat ini adalah hampir semua penduduk memiliki rumah tradisional beratapkan rumbia. Atap dari bangunan rumah tersebut berbentuk kerucut dan dibangun dengan bentuk melingkar mengelilingi Tubu Kanga. Tubu Kanga dalam bahasa adat mereka adalah suatu pelataran yang sering digunakan sebagai lokasi digelarnya berbagai macam acara adat. Keren banget kan, Vems?

Yang lebih keren lagi adalah bentuk atap dari rumah suku tersebut memiliki bentuk kerucut yang berbeda-beda. Dan ada nilai filosofi di baliknya. Menurut juru bicara tetua adat, bentuk atap dari rumah adat kepala suku memiliki bentuk kerucut yang lebih tinggi. Selain itu, untuk membangun rumah adat ini ternyata tidak boleh dilakukan dengan sembarangan lho. Sebelum membangun rumah, orang tersebut harus melalui acara ritual adat yang dinamakan Naka Wisnu. Naka Wisnu adalah aturan dalam memotong pohon yang nantinya akan digunakan sebagai tiang penyangga rumah.

Untuk memulai ritual itu, orang tersebut harus menyembelih seekor ayam dan proses penebangan pohon pun harus dilakukan pada jam 12 malam. Tidak ada yang tahu benar alasannya, tapi peraturan tersebut benar-benar dipatuhi oleh masyarakat Wologai sebagai salah satu cara untuk melestarikan tradisi leluhur.

Hanya baca artikel ini saja tidak seru, Vems. Karena Anda harus menyaksikannya sendiri. Jangan lupa jadikan Kampung Wologai jadi destinasi wisata liburan mendatang, ya.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR